Update Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Jelang Ramadhan 2026
Gejolak harga sejumlah kebutuhan pokok mulai terasa di berbagai pasar tradisional di seluruh Indonesia seiring mendekatnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada akhir Februari 2026. Pantauan tim teranews.id di beberapa pasar induk seperti Pasar Kramat Jati di Jakarta dan Pasar Johar di Semarang menunjukkan tren kenaikan signifikan pada komoditas strategis, terutama yang menjadi primadona konsumsi selama bulan puasa. Kenaikan harga ini, yang berkisar antara 15% hingga 80%, telah menjadi sumber kekhawatiran utama bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner skala kecil.
Fenomena kenaikan harga ini seolah menjadi siklus tahunan yang tak terhindarkan. Peningkatan permintaan yang drastis dari masyarakat untuk persiapan sahur dan berbuka puasa menjadi pemicu utama. Namun, faktor lain seperti gangguan pada rantai pasok, kondisi cuaca yang tidak menentu di sentra produksi, hingga dugaan praktik spekulasi oleh oknum tertentu turut memperkeruh situasi. Berdasarkan data historis dan pantauan terkini, Info Harga yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa beberapa komoditas pangan bahkan telah melampaui harga psikologisnya jauh sebelum Ramadhan tiba, memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas kebijakan stabilisasi harga oleh pemerintah.

⚠️ Baca Juga:
Cabai dan Daging Sapi: Siapa Dalang di Balik Lonjakan Harga?
Dua komoditas yang mengalami lonjakan paling tajam adalah cabai rawit merah dan daging sapi. Harga cabai rawit merah, yang dua pekan lalu masih berada di kisaran Rp 65.000 per kilogram, kini meroket hingga menembus angka Rp 115.000 per kilogram di tingkat eceran. Menurut Asosiasi Petani Hortikultura Indonesia (Aphindo), lonjakan ini disebabkan oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi di wilayah sentra produksi seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang menyebabkan banyak tanaman cabai mengalami gagal panen akibat serangan jamur patek (antraknosa). Selain itu, panjangnya rantai distribusi dari petani ke konsumen akhir, yang melibatkan hingga 4-5 lapis pedagang perantara, turut menyumbang margin keuntungan yang membuat harga di tingkat konsumen akhir membengkak.
Sementara itu, harga daging sapi has dalam terpantau stabil tinggi di angka Rp 165.000 hingga Rp 170.000 per kilogram, naik dari harga normal Rp 135.000. Ketergantungan Indonesia pada pasokan sapi impor, terutama dari Australia, menjadi faktor krusial. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia dan kenaikan biaya logistik internasional menjadi beban yang langsung ditransmisikan ke harga jual. Di sisi domestik, kenaikan harga pakan ternak yang mengandung komponen impor seperti bungkil kedelai juga memaksa para peternak lokal untuk menyesuaikan harga jual sapi mereka, menciptakan efek domino yang tak terhindarkan hingga ke meja makan konsumen.
Minyak Goreng dan Gula Pasir: Stagnan Namun Tetap Menguras Kantong
Berbeda dengan cabai dan daging, komoditas minyak goreng dan gula pasir menunjukkan tren harga yang cenderung stagnan, namun di level yang masih terbilang tinggi. Harga minyak goreng curah bertahan di level Rp 15.500 per kilogram, sedikit di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, untuk minyak goreng kemasan premium, harganya bervariasi antara Rp 20.000 hingga Rp 23.000 per liter. Meskipun pasokan dari pabrik diklaim aman, kelangkaan merek tertentu seperti Minyakita di tingkat warung dan pasar tradisional masih menjadi keluhan. Hal ini mengindikasikan adanya potensi masalah distribusi atau praktik penjualan bersyarat (tying) oleh distributor besar.
Untuk gula pasir kristal putih, harganya stabil di angka Rp 18.500 per kilogram. Angka ini jauh di atas HET yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp 17.500 per kilogram. Stagnasi harga tinggi ini disebabkan oleh masa tunggu menjelang musim giling tebu nasional yang baru akan dimulai pada bulan Mei-Juni 2026. Untuk mengisi kekosongan pasokan domestik, pemerintah mengandalkan kuota impor. Namun, realisasi impor yang terkadang lambat dan proses distribusinya yang belum merata ke seluruh wilayah membuat harga di tingkat konsumen sulit untuk turun sesuai harapan pemerintah.
Operasi Pasar dan Sidak Mendadak: Efektifkah Menekan Spekulan?
Menanggapi gejolak harga ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, Bapanas, dan Perum Bulog telah menyiapkan serangkaian intervensi. Operasi pasar murah yang menyalurkan komoditas seperti beras, minyak goreng, gula, dan tepung terigu mulai digalakkan di titik-titik padat penduduk. Perum Bulog secara masif menggelontorkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga harga beras medium di level yang terjangkau. Langkah ini terbukti cukup efektif menahan laju kenaikan harga beras, yang saat ini relatif stabil.
Di sisi penegakan hukum, Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri telah diaktifkan kembali untuk melakukan pengawasan ketat terhadap jalur distribusi. Inspeksi mendadak (sidak) ke gudang-gudang distributor besar dilakukan untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat menciptakan kelangkaan artifisial. Namun, banyak pengamat menilai langkah-langkah ini seringkali bersifat reaktif dan hanya menjadi solusi jangka pendek. Tanpa perbaikan fundamental pada struktur produksi, efisiensi rantai pasok, dan akurasi data pangan nasional, masalah kenaikan harga jelang hari besar keagamaan akan terus berulang setiap tahunnya.
Di tengah ketidakpastian harga dan potensi kenaikan lebih lanjut, konsumen dituntut untuk lebih cerdas dan strategis dalam mengelola keuangan dapur selama bulan Ramadhan. Sikap panik dengan melakukan pembelian berlebihan (panic buying) justru akan memperburuk situasi dan memberikan keuntungan bagi para spekulan. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan untuk menyiasati lonjakan harga:
- 1. Buat Rencana Menu dan Anggaran Belanja Mingguan: Susun rencana menu untuk sahur dan berbuka selama satu minggu ke depan. Buat daftar belanja yang detail berdasarkan menu tersebut dan patuhi daftar itu saat berada di pasar. Ini akan menghindari pembelian impulsif yang tidak perlu dan membengkakkan pengeluaran.
- 2. Lakukan Substitusi Cerdas: Jika harga daging sapi terlalu tinggi, jangan ragu untuk beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau seperti daging ayam, telur, ikan lele, atau tempe dan tahu. Untuk bumbu, gunakan cabai kering sebagai alternatif cabai segar yang harganya melonjak.
- 3. Manfaatkan Informasi dan Promosi: Pantau informasi mengenai jadwal dan lokasi operasi pasar murah yang diadakan oleh pemerintah daerah. Selain itu, bandingkan harga antara pasar tradisional, toko ritel modern, dan platform belanja online yang seringkali menawarkan diskon atau program promosi khusus jelang Ramadhan.
- 4. Belanja Kolektif: Ajak tetangga atau kerabat untuk berbelanja bersama langsung ke pasar grosir atau pusat distribusi. Membeli dalam jumlah yang lebih besar seringkali mendapatkan harga yang lebih murah, yang kemudian dapat dibagi sesuai kebutuhan masing-masing, sehingga lebih efisien dan hemat.












