JAKARTA, TERANEWS.ID – Memasuki bulan suci Ramadhan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat Muslim adalah menjaga stamina dan kebugaran tubuh meski menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 12 jam. Keluhan umum seperti lemas, mudah mengantuk, dan sulit berkonsentrasi seringkali muncul. Banyak yang kemudian bertanya-tanya, perlukah mengonsumsi suplemen tambahan untuk memenuhi kebutuhan vitamin saat puasa? Untuk menjawab hal ini, kami berbincang dengan ahli gizi terkemuka, Dr. Amanda Putri, M.Gizi, yang memaparkan secara komprehensif mengenai strategi nutrisi selama berpuasa.
Menurut Dr. Amanda, prinsip utama untuk tetap bugar selama berpuasa terletak pada pola makan yang seimbang saat sahur dan berbuka, bukan semata-mata bergantung pada suplemen. “Tubuh kita sebenarnya sudah memiliki mekanisme adaptasi yang luar biasa. Namun, kunci utamanya adalah apa yang kita masukkan ke dalam tubuh saat waktu makan tiba,” jelasnya. Dengan perencanaan yang matang, termasuk mencari berbagai referensi dan informasi Ramadhan 2026 terbaru, setiap individu dapat mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih sehat dan optimal. Pemenuhan nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin, mineral) menjadi fondasi tak tergantikan.

⚠️ Baca Juga:
Mengapa Asupan Nutrisi Menjadi Krusial Selama Berpuasa?
Perubahan pola makan yang drastis selama Ramadhan menuntut perhatian ekstra terhadap asupan gizi. Jeda makan yang panjang membuat tubuh harus mengandalkan cadangan energi dan nutrisi yang telah tersimpan. Jika menu sahur dan berbuka tidak dirancang dengan baik, misalnya terlalu banyak gula, lemak jenuh, dan makanan olahan, maka risiko kekurangan nutrisi esensial akan meningkat. “Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga momentum untuk memperbaiki pola makan. Jika asupan gizi tidak memadai, imunitas bisa menurun, tubuh menjadi lemas, dan metabolisme melambat,” tegas Dr. Amanda.
Kekurangan vitamin dan mineral spesifik dapat secara langsung berdampak pada tingkat energi dan kesehatan secara keseluruhan. Misalnya, kekurangan vitamin B kompleks dapat mengganggu proses konversi makanan menjadi energi, yang akhirnya menyebabkan kelelahan berlebih. Oleh karena itu, memahami peran setiap nutrisi menjadi langkah awal untuk merancang menu puasa yang sehat dan bergizi.
Vitamin dan Mineral Esensial yang Wajib Dipenuhi
Untuk menjaga tubuh tetap prima, ada beberapa vitamin dan mineral yang perannya sangat vital selama berpuasa. Dr. Amanda menyarankan untuk fokus memenuhi kebutuhan ini melalui sumber makanan alami terlebih dahulu.
- Vitamin B Kompleks (B1, B6, B12): Dikenal sebagai ‘energy vitamins’, kelompok vitamin ini berperan penting dalam metabolisme energi. Vitamin B membantu tubuh mengubah karbohidrat dan lemak menjadi glukosa yang siap pakai. Kekurangan vitamin B dapat menyebabkan rasa lelah dan lesu. Sumber terbaik: Daging tanpa lemak, ikan, telur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh seperti oatmeal dan beras merah.
- Vitamin C: Sebagai antioksidan kuat, vitamin C sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Perubahan pola tidur dan makan saat puasa bisa menjadi stresor bagi tubuh, sehingga sistem imun yang kuat adalah sebuah keharusan. Sumber terbaik: Jambu biji, jeruk, stroberi, kiwi, paprika, dan brokoli.
- Vitamin D: Selain penting untuk kesehatan tulang karena membantu penyerapan kalsium, vitamin D juga memiliki peran signifikan dalam fungsi imun. Aktivitas di luar ruangan yang mungkin berkurang saat puasa bisa menurunkan paparan sinar matahari, sumber utama vitamin D. Sumber terbaik: Ikan berlemak (salmon, sarden), kuning telur, dan produk susu fortifikasi.
- Zat Besi: Mineral ini adalah komponen utama hemoglobin yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Defisiensi zat besi dapat menyebabkan anemia, dengan gejala pusing, pucat, dan kelelahan ekstrem. Sumber terbaik: Daging merah, hati, bayam, brokoli, dan lentil.
- Magnesium dan Kalium: Kedua mineral ini adalah elektrolit kunci yang mengatur keseimbangan cairan dan fungsi otot. Kekurangan elektrolit akibat dehidrasi ringan saat puasa dapat menyebabkan kram otot dan kelemahan. Sumber terbaik: Kurma, pisang, alpukat, bayam, dan kacang almond.
Suplemen Saat Puasa: Kapan Sebenarnya Diperlukan?
Ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Dr. Amanda menekankan pendekatan “food first” atau utamakan dari makanan. “Suplemen bukanlah jalan pintas atau pengganti makanan sehat. Ia bersifat pelengkap, bukan pokok,” ujarnya. Menurutnya, suplemen baru benar-benar diperlukan pada kondisi tertentu dan idealnya harus berdasarkan rekomendasi dokter atau ahli gizi.
Beberapa kelompok yang mungkin memerlukan suplementasi antara lain:
- Individu dengan kondisi medis tertentu yang mengganggu penyerapan nutrisi.
- Orang yang memiliki riwayat defisiensi vitamin atau mineral (seperti anemia defisiensi besi).
- Lanjut usia (lansia) yang kemampuan tubuhnya menyerap nutrisi dari makanan sudah menurun.
- Individu yang menjalani diet sangat ketat (misalnya vegan) yang mungkin kesulitan memenuhi kebutuhan vitamin B12 atau zat besi.
“Jika Anda merasa sangat lemas meski sudah makan seimbang, jangan langsung membeli multivitamin. Konsultasikan dulu dengan tenaga kesehatan. Bisa jadi ada penyebab lain yang perlu ditangani. Mengonsumsi suplemen secara sembarangan tanpa indikasi yang jelas bisa jadi tidak efektif dan membebani ginjal,” saran Dr. Amanda.
Tips Praktis Memenuhi Kebutuhan Vitamin Secara Alami
Untuk memastikan asupan nutrisi tercukupi dari makanan, Dr. Amanda memberikan beberapa tips praktis yang bisa diterapkan sehari-hari selama bulan Ramadhan:
- Komposisi Sahur yang Lengkap: Pastikan menu sahur Anda mengandung karbohidrat kompleks (nasi merah, roti gandum), protein (telur, ayam, ikan, tempe), lemak sehat (alpukat, minyak zaitun), dan serat (sayuran dan buah). Kombinasi ini akan memberikan energi yang dilepaskan secara perlahan.
- Hidrasi Optimal: Minumlah air putih yang cukup, sekitar 8-10 gelas, yang dibagi antara waktu berbuka hingga sahur. Air sangat penting untuk proses metabolisme dan penyerapan vitamin yang larut dalam air.
- Berbuka dengan Bijak: Awali dengan yang manis alami seperti kurma untuk mengembalikan energi dengan cepat, diikuti air putih. Beri jeda sebelum makan besar. Hindari makanan yang digoreng dan minuman manis berlebihan yang dapat menyebabkan lonjakan gula darah drastis.
- Variasikan Menu Makanan: Terapkan prinsip “piring pelangi”. Semakin beragam warna sayur dan buah yang Anda konsumsi, semakin lengkap pula vitamin dan mineral yang Anda dapatkan.
Sebagai kesimpulan, menjaga kebugaran selama berpuasa sangat mungkin dicapai tanpa harus bergantung pada suplemen. Kuncinya terletak pada perencanaan menu sahur dan berbuka yang seimbang dan kaya nutrisi. Fokuslah untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dari sumber makanan alami. Suplemen hanya berperan sebagai pendukung dalam kondisi spesifik dan harus digunakan di bawah pengawasan ahli. Dengan strategi nutrisi yang tepat, ibadah puasa dapat dijalankan dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, dan energi yang terjaga.












