Menjelang datangnya bulan suci, umat Islam di seluruh dunia mulai mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Salah satu ibadah paling ikonik yang hanya ada di bulan ini adalah Shalat Tarawih. Ibadah sunnah muakkadah ini menjadi penanda semaraknya malam-malam Ramadhan, baik di masjid maupun di rumah. Namun, untuk meraih keutamaan maksimal, pemahaman yang mendalam mengenai niat, kaifiyat atau tata cara, hingga doa yang menyertainya menjadi sebuah keniscayaan. Artikel ini akan mengupas tuntas pedoman lengkap Shalat Tarawih sebagai bekal menyambut Ramadhan 2026.
Shalat Tarawih bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, dan memperbanyak pahala. Oleh karena itu, persiapan spiritual dan pengetahuan menjadi sangat krusial. Seiring dengan penelusuran panduan ini, mendapatkan berbagai informasi Ramadhan 2026 terbaru juga akan membantu melengkapi persiapan ibadah Anda secara menyeluruh, mulai dari jadwal imsakiyah hingga tips menjaga kesehatan selama berpuasa.

⚠️ Baca Juga:
Memahami Hakikat dan Keutamaan Shalat Tarawih
Secara etimologi, kata “Tarawih” merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah yang berarti istirahat sejenak. Penamaan ini merujuk pada praktik para sahabat dan generasi setelahnya yang beristirahat sejenak setelah mengerjakan setiap empat rakaat (atau dua kali salam). Shalat ini pada dasarnya adalah qiyamul lail (shalat malam) yang dikhususkan pelaksanaannya pada malam-malam bulan Ramadhan. Hukumnya adalah sunnah muakkadah, artinya sunnah yang sangat dianjurkan bagi laki-laki maupun perempuan.
Keutamaannya sangat besar, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” Hadis ini menjadi motivasi terbesar bagi kaum muslimin untuk tidak melewatkan satu malam pun tanpa mendirikan Shalat Tarawih. Selain sebagai sarana penggugur dosa, Tarawih juga menjadi ajang mempererat ukhuwah Islamiyah saat dilaksanakan secara berjamaah di masjid.
Niat dan Tata Cara Shalat Tarawih yang Benar
Kunci utama dari setiap ibadah adalah niat. Niat Shalat Tarawih harus dihadirkan dalam hati sesaat sebelum takbiratul ihram. Berikut adalah lafal niat yang dapat diucapkan untuk memantapkan hati, baik sebagai imam, makmum, maupun saat shalat sendiri (munfarid).
- Niat Shalat Tarawih sebagai Imam (2 Rakaat):
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak’atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, sebagai imam karena Allah Ta’ala.” - Niat Shalat Tarawih sebagai Makmum (2 Rakaat):
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak’atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.” - Niat Shalat Tarawih Sendiri (2 Rakaat):
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak’atayni mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”
Setelah niat terpasang, tata cara shalat tarawih pada dasarnya sama seperti shalat sunnah lainnya. Pelaksanaannya dilakukan setiap dua rakaat diakhiri dengan satu salam. Berikut urutannya secara rinci:
- Mengucapkan takbiratul ihram seraya berniat di dalam hati.
- Membaca doa Iftitah.
- Membaca Surat Al-Fatihah.
- Membaca salah satu surat atau beberapa ayat dari Al-Qur’an.
- Rukuk dengan tuma’ninah.
- I’tidal dengan tuma’ninah.
- Sujud pertama dengan tuma’ninah.
- Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah.
- Sujud kedua dengan tuma’ninah.
- Bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama seperti rakaat pertama.
- Duduk tasyahud akhir setelah sujud kedua pada rakaat kedua.
- Mengucapkan salam untuk mengakhiri shalat.
Urutan ini diulang terus-menerus hingga mencapai jumlah rakaat yang diinginkan, baik itu 8 rakaat maupun 20 rakaat, sebelum ditutup dengan Shalat Witir.
Perbedaan Jumlah Rakaat: 11 atau 23?
Salah satu topik yang sering menjadi diskusi di tengah masyarakat adalah perbedaan jumlah rakaat Shalat Tarawih. Sebagian umat Islam melaksanakan 11 rakaat (8 rakaat Tarawih + 3 rakaat Witir), sementara yang lain melaksanakan 23 rakaat (20 rakaat Tarawih + 3 rakaat Witir). Penting untuk dipahami bahwa kedua praktik ini memiliki landasan dan dalilnya masing-masing.
Praktik 11 rakaat berpegang pada hadis Aisyah RA yang menjelaskan bahwa shalat malam Rasulullah SAW, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, tidak pernah lebih dari sebelas rakaat. Sementara itu, praktik 23 rakaat merujuk pada amalan yang dilembagakan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Beliau mengumpulkan umat Islam untuk shalat berjamaah di belakang satu imam (Ubay bin Ka’ab) dengan jumlah 20 rakaat Tarawih, yang kemudian ditambah 3 rakaat Witir. Praktik ini disepakati oleh para sahabat pada masa itu dan terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Para ulama dari empat mazhab besar cenderung menyepakati pelaksanaan 20 rakaat, namun tidak menyalahkan praktik 11 rakaat. Intinya, kedua jumlah rakaat tersebut adalah sah dan baik untuk diamalkan. Yang terpenting bukanlah perdebatan jumlahnya, melainkan kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam melaksanakannya sepanjang bulan Ramadhan.
Kumpulan Doa dan Dzikir Setelah Shalat Tarawih
Setelah menyelesaikan rangkaian Shalat Tarawih dan sebelum memulai Shalat Witir, biasanya jamaah akan membaca doa bersama yang dikenal sebagai Doa Kamilin. Doa ini berisi permohonan yang komprehensif, mulai dari kesempurnaan iman, ampunan, hingga rezeki yang halal. Meskipun doa ini tidak secara spesifik diajarkan oleh Nabi SAW, isinya sangat baik dan telah menjadi tradisi di banyak tempat.
Selain itu, di antara jeda setiap dua atau empat rakaat Tarawih, sering kali dilantunkan puji-pujian atau dzikir. Salah satu yang populer adalah bacaan berikut:
Subhānal malikil quddūs, Subhānal malikil ma’būd, Subhānal malikil maujūd, Subhānal malikil hayyil ladzī lā yanāmu wa lā yamūtu wa lā yafūtu abadan. Subbūhun, quddūsun, rabbunā wa rabbul malā’ikati war rūh.
Setelah Shalat Tarawih selesai dan ditutup dengan Shalat Witir, dianjurkan pula untuk membaca dzikir dan doa penutup. Dzikir yang sering dibaca setelah salam Shalat Witir adalah “Subhānal malikil quddūs” sebanyak tiga kali, dengan suara yang dikeraskan pada bacaan ketiga.
Kesimpulan
Shalat Tarawih adalah permata di malam-malam Ramadhan yang menawarkan peluang tak ternilai untuk meraih ampunan dan pahala dari Allah SWT. Dengan memahami hakikat, niat, tata cara yang benar, serta menyikapi perbedaan jumlah rakaat dengan bijaksana, ibadah kita akan menjadi lebih berkualitas dan bermakna. Semoga pedoman lengkap ini dapat menjadi panduan yang bermanfaat bagi seluruh umat Islam dalam menyongsong dan mengisi malam-malam Ramadhan 2026 dengan ibadah terbaik, penuh kekhusyukan, dan keikhlasan semata-mata karena Allah Ta’ala.












