Update Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Jelang Ramadhan 2026

⏱ 5 menit baca
Harga Sembako Ramadhan
Harga Sembako Ramadhan
teranews ads 2

Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok mulai terasa di berbagai pasar tradisional di seluruh Indonesia seiring semakin dekatnya bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M. Pantauan tim teranews.id di beberapa pasar induk seperti Pasar Kramat Jati di Jakarta dan Pasar Johar di Semarang menunjukkan tren kenaikan signifikan pada komoditas strategis, terutama yang berkaitan langsung dengan menu sahur dan berbuka puasa. Fenomena tahunan ini kembali menjadi momok bagi daya beli masyarakat, memaksa para ibu rumah tangga untuk lebih cermat dalam mengelola anggaran belanja dapur yang kian menipis.

Data yang dihimpun dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per minggu ketiga Februari 2026 mencatat lonjakan harga yang bervariasi antara 15% hingga 40% untuk beberapa item pangan utama. Komoditas seperti cabai rawit merah, daging sapi, telur ayam ras, dan minyak goreng curah menjadi penyumbang inflasi terbesar di sektor pangan. Kenaikan ini disinyalir terjadi akibat kombinasi faktor peningkatan permintaan musiman dan beberapa kendala di sisi pasokan. Untuk memantau perkembangan terkini, pembaca dapat mengakses Info Harga secara berkala melalui platform kami.

teranews ads 2

Cabai Rawit dan Daging Sapi: Siapa Dalang di Balik Lonjakan Harga?

Fokus utama kenaikan harga saat ini tertuju pada dua komoditas yang paling volatil: cabai rawit merah dan daging sapi. Harga cabai rawit merah, yang pada awal Februari masih berada di kisaran Rp 65.000 per kilogram, kini telah menembus angka psikologis Rp 100.000 hingga Rp 115.000 per kilogram di tingkat eceran. Analisis teknis menunjukkan bahwa faktor cuaca ekstrem di sentra-sentra produksi seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menjadi pemicu utama. Curah hujan tinggi yang berkepanjangan menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen akibat serangan jamur patek (antraknosa), yang secara drastis mengurangi volume pasokan ke pasar induk.

Sementara itu, harga daging sapi segar kualitas I juga merangkak naik dari posisi Rp 135.000 menjadi rata-rata Rp 150.000 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor berlapis. Pertama, peningkatan permintaan untuk persiapan hidangan khas Ramadhan seperti rendang dan semur. Kedua, ketergantungan pada pasokan sapi impor, di mana fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS memberikan tekanan pada biaya impor. Selain itu, proses logistik dan distribusi dari rumah potong hewan (RPH) ke pedagang eceran juga memakan biaya yang tidak sedikit, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir. Pemerintah diharapkan segera melakukan intervensi, baik melalui operasi pasar maupun percepatan realisasi kuota impor untuk meredam gejolak lebih lanjut.

Minyak Goreng dan Beras: Stabilitas yang Rapuh di Tengah Permintaan Tinggi

Meskipun tidak seekstrem cabai dan daging, harga minyak goreng dan beras menunjukkan tren kenaikan yang perlu diwaspadai. Harga minyak goreng kemasan premium terpantau naik sekitar 5-8%, sementara Minyakita, merek dagang pemerintah, mulai langka di pasaran. Kelangkaan ini membuka ruang bagi pedagang untuk menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp 14.000 per liter. Dari sisi produksi, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani yang stabil seharusnya menjamin pasokan bahan baku. Namun, kendala distribusi dan dugaan penimbunan oleh oknum spekulan jelang Ramadhan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi Satgas Pangan.

Di sisi lain, beras sebagai makanan pokok utama masyarakat Indonesia juga tidak luput dari tekanan harga. Harga beras medium kualitas II naik tipis dari Rp 12.500 menjadi Rp 13.200 per kilogram. Kenaikan ini, meskipun terlihat kecil, memiliki dampak signifikan terhadap pengeluaran rumah tangga berpenghasilan rendah. Perum Bulog mengklaim bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan. Namun, sentimen pasar dan psikologi konsumen yang cenderung melakukan pembelian dalam jumlah lebih besar (panic buying) menjelang Ramadhan berpotensi mengganggu keseimbangan harga jika tidak diantisipasi dengan distribusi yang masif dan merata melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Strategi Jitu Menyiasati Anggaran Dapur: Ini Kalkulasi Belanja Cerdas

Menghadapi realitas kenaikan harga yang tak terhindarkan, konsumen dituntut untuk menjadi lebih cerdas dan strategis dalam berbelanja. Sikap pasrah hanya akan menggerus tabungan dan mengganggu kesehatan finansial keluarga. Diperlukan sebuah perencanaan matang dan eksekusi yang disiplin untuk memastikan kebutuhan gizi keluarga selama Ramadhan tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan pos pengeluaran penting lainnya. Berikut adalah beberapa langkah teknis yang dapat segera diterapkan untuk menyiasati lonjakan harga sembako.

Langkah-langkah praktis ini dapat menjadi panduan efektif dalam mengelola keuangan dapur di tengah gempuran harga tinggi:

  • 1. Lakukan Substitusi Cerdas: Identifikasi bahan makanan yang harganya meroket dan cari alternatif pengganti yang lebih terjangkau namun memiliki nilai gizi setara. Misalnya, kurangi konsumsi daging sapi dan perbanyak protein nabati dari tempe dan tahu yang harganya jauh lebih stabil. Untuk mendapatkan rasa pedas, kombinasikan penggunaan cabai segar dengan cabai kering giling yang harganya lebih murah dan tahan lama.
  • 2. Manfaatkan Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah: Pantau secara aktif informasi dari dinas perdagangan atau dinas ketahanan pangan setempat. Menjelang Ramadhan, pemerintah daerah biasanya gencar mengadakan operasi pasar atau gerakan pangan murah yang menjual komoditas utama seperti beras, minyak goreng, gula, dan telur dengan harga di bawah pasar. Manfaatkan program ini untuk membeli stok kebutuhan pokok.
  • 3. Terapkan Metode Belanja Kolektif: Ajak beberapa tetangga atau kerabat untuk berbelanja bersama langsung di pasar induk atau agen distributor besar. Dengan membeli dalam kuantitas yang lebih besar (misalnya, membeli minyak goreng dalam satu karton atau beras dalam karung 25 kg), Anda bisa mendapatkan harga grosir yang selisihnya cukup signifikan dibandingkan harga eceran.
  • 4. Rencanakan Menu Mingguan dan Terapkan Zero Waste: Sebelum berbelanja, buat daftar menu detail untuk sahur dan berbuka selama satu minggu. Hal ini mencegah pembelian impulsif. Selain itu, terapkan prinsip zero waste cooking dengan memanfaatkan semua bagian bahan makanan. Contohnya, tulang sisa dari olahan ayam dapat diolah menjadi kaldu yang lezat untuk masakan sup.

Pada akhirnya, kenaikan harga jelang Ramadhan adalah siklus ekonomi yang terus berulang. Kunci utama bagi masyarakat untuk bertahan adalah melalui adaptasi dan perencanaan yang matang. Selain mengandalkan intervensi pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga, kemampuan individu dalam mengelola anggaran, mencari alternatif, dan mengurangi pemborosan pangan menjadi senjata paling ampuh untuk melewati periode ini. Dengan strategi yang tepat, pemenuhan kebutuhan gizi selama bulan puasa dapat tetap terjaga tanpa harus menimbulkan guncangan finansial yang berarti bagi keluarga.

Ikuti kami di Google News